Friday, October 02, 2009

Kasih dan Sayang

Kasih : Sayang, tadi pagi Cinta nyapa Kasih loh.
Sayang : Oh ya? Terus...?
Kasih : Ya... gitu deh. Ada canda, ada tawa, dan ada rayu.
Sayang : Hmmm...
Kasih : Cinta hebat merayu loh.
Sayang : Ahahaha...
Kasih : Sayang nggak marah?
Sayang : Kenapa musti marah?
Kasih : Masa sayang nggak cemburu?
Sayang : Haruskah?
Kasih : Sayang nggak takut kalo Cinta berhasil meluluhkan hati Kasih?
Sayang : Enggak tuh.
Kasih : Ah! Sayang nggak beneran sayang ya sama Kasih?
Sayang : Kasih... Sayang percaya kasih nggak akan mau dirayu sama Cinta, Honey, ataupun
Beiby di luaran sana...
Kasih : Argh!
Sayang : Soalnya Sayang tau, dari siapapun di luaran sana, Sayang yang menjadi pilihan Kasih
seperti juga Kasih menjadi pilihan Sayang.
Kasih : ... Kasih merasa beruntung dipilih jadi teman hidup Sayang.

Cahaya

Sesuatu itu mereka namakan kabut asap.
Tebal memudarkan pandangan mata, pengap menyesakkan dada.
Sesuatu itu kini tak hanya menyelimuti kota Balikpapan, sesuatu itu juga sedang menyelimuti rumah-cintaku.
Sehingga tak bisa kulihat yang mana merah, yang mana biru.
Sehingga tak bisa kuhirup yang mana harum Mawar, yang mana harum Melati.
Yang kasat mata hanyalah cahaya pudar di belakangku yang selama ini menyinari ruang-ruang dalam rumah-cinta ini, dan cahaya terang di depanku yang berkilau, yang tiba-tiba membuatku terkagum-kagum.
Biarkan aku mencari tau, apa itu cahaya terang di depan sana.
Biarkan aku menjadi tau, mana cahaya yang mampu menuntunku keluar dari ruang berkabut asap ini.
Yang pudar di belakang, ataukah yang terang di depan.
Aku hanya ingin menjadi tau saja.
Setelah itu, aku akan tetap berjalan diterangi cahaya yanng mulai memudar di belakangku.
Bertahan, sampai cahaya itu benar-benar mati sendiri, bukan karena tertiup angin jahat.
Dan pada akhirnya aku akan tau, sanggupkah cahaya terang di depan sana bertahan untuk tetap menyala.

Sunday, August 02, 2009

Semangat!

Dan hari kedua di bulan Agustus dilanda flu berat, juga flu kantong. Pengeluaran bulan ini akan pasti lebih besar dari pendapatan. Secara tim magazine kami merugi setengah harga. Jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran, agar jangan sampai terjadi lagi kemudian hari. Karya yang didasari dengan niat akan membuahkan hasil yang bagus dan akan jauh lebih dihargai ketimbang karya yang 'pokoknya jadi'. Kejadian ini jauh di luar harapan saya, dan sebenarnya bukan termasuk tanggung jawab saya. Tapi saya sangat mengerti keadaan, dan saya berusaha menerimanya dengan lapang dada.

Kerja-kerja lain yang menghasilkan duit kecil, lumayan untuk uang saku sekolah si adik. Hemat-hemat makan dan jajan jadi hal yang mesti dilakukan untuk sementara ini. Sementara kerja-kerja lain yang berseliweran di otak saya, masih menunggu modal agar bisa direalisasikan. Saya yakin pasti ada jalan keluar untuk semua masalah. Bukankah keyakinan itu adalah kunci utama menuju sukses? Kalau tidak ada keyakinan tidak akan ada semangat, lalu tidak ada hasil yang baik, lalu tidak ada penghargaan, lalu merugi yang kita dapatkan. Buat apa?

Sementara flu berat, tidak banyak hal yang bisa saya lakukan. Di depan komputer sambil bawa bantal, atau berbaring di atas tempat tidur meng-acakadul rubik yang sudah beberapa kali jadi. Membosankan! Sesembuhnya saya nanti, keliling berdagang dan mengajukan surat lamaran untuk sebuah pekerjaan tetap menjadi agenda pertama.

Semangat!

Saturday, August 01, 2009

Instropeksi

Adapun Tugas Istri adalah sebagai berikut:

1. Menjadi Pendamping Suami
2. Mengungkapkan Rasa Cinta Kepada Suami
3. Menjaga Kehormatan Suami
4. Jangan Mengeluh dan Mengumbar Penderitaan Sembarangan
5. Bersikaplah Yang Menyenangkan

Adakah dari lima tersebut dalam diri saya?

Menjadi pendamping suami adalah janji saya sejak pertama kali kami mengikat hubungan cinta. Apapun keadaan dia, saya harus selalu ada di sampingnya. Kecuali ketika dia meminta saya untuk tinggal jauh dari dia selama beberapa jenak. Waktu yang cukup panjang bagi saya dalam menanti-nanti bersama kembali dengan dia. Cukup bisa dimengerti segala alasan yang membuat kami harus terpisah, saya paham, sangat paham. Dan saya berusaha untuk tidak selalu mengeluh pada masa itu. Sampai tiba waktunya penantian panjang saya membuahkan hasil yang melegakan hati, jiwa, dan pikiran. Masih tetap janji saya untuk mendampingi dia, apapun keadaan dia. Dalam bahagianya, dalam sedihnya; dalam kasih sayangnya, dalam marahnya; dalam kayanya, dalam miskinnya. Ya, saya berjanji!

Mengungkapkan rasa cinta kepada suami sebisa mungkin saya lakukan. Lewat telepon, lewat SMS; lewat suntuhan lembut, lewat kecupan kecil; lewat secangkir teh manis hangat, -ah ya, ini rupanya yang terlewatkan. Sudah lama saya tidak menghangatkan paginya dengan secangkir teh manis kesukaannya. Harus saya lakukan besok pagi!- lewat wangi di baju kerjanya yang halus -ini juga yang saya abaikan belakangan. Nampak seperti istri yang kurang peduli pada suaminya ya? Lakukan ini mulai Senin pagi!- Hal-hal yang sepertinya sepele ternyata membawa dampak yang cukup besar pada perasaan cinta. Dan saya harus mulai pandai-pandai membagi waktu antara pekerjaan, kesenangan, dan tugas saya sebagai seorang istri. Buang gerutu!

Menjaga kehormatan suami secara otomatis dan tanpa disadari telah terpenuhi. Tidak sekalipun saya melakukan hal-hal yang membuat namanya ternoda. Saya selalu berusaha membuat dia bangga pada apa yang saya kerjakan. Walaupun entah dia pernah bangga atau tidak, itu hanya dia dalam hati saja yang tau.

Mengeluh dan mengumbar penderitaan sembarangan adalah kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan. Saking tidak sabarnya saya menanti dia, begitu bodohnya saya mengeluh pada beberapa kawan. Dan, apa yang saya dapat? Pro dan kontra yang mengombang-ambing pendirian saya. Membuat saya ragu salam mengambil keputusan untuk tetap bersabar atau melanjutkan segalanya tanpa ada sesiapa. Namun begitu besar cinta saya pada dia, yang menguatkan saya untuk terus bersabar dan yakin akan bahagia bersama dia. Terwujud!

Bersikap menyenangkan pada dia, saya tidak tau. Hanya dia yang bisa menilai apakah sikap saya menyenangkan atau tidak bagi dia. Seringnya saya menggerutu atau berteriak marah pasti tidak menyenangkan. Berpikiran positif dan tenang pasti bisa membantu saya untuk tidak selalu menggerutu dan berteriak marah, ya? Usaha saya semaksimal mungkin untuk selalu membuat dia senang. Rupanya saya harus memperbaiki banyak hal dalam tugas saya sebagai seorang istri. Saya ingin lebih menyenangkan lagi bagi dia.

Berubahlah menjadi lebih baik!


Masa-masa Itu

Perbincangan dunia maya semalam menggiring memori saya kembali ke masa-masa itu...


Masa dimana tidak ada dinding yang membatasi ruang pikiran dan gerak jemari saya. Masa paling liar yang pernah ada dalam bagian hidup saya. Liar yang bebas namun tau diri. Liar pikiran yang berkelana mencari serpihan kata untuk dirangkai menjadi suatu kalimat, dan dituangkan dalam hitam di atas putih.

Di lembar-lembar itu imaji saya, imajinasi kami bermain dan bersenang-senang bersama. Lembar-lembar putih yang kami warnai bersama, yang kini telah hilang dibawa banjir pertama saya. Lembar-lembar yang tinggal kenangan tanpa bukti nyata.

Kami liar di dalam ruang besar, suram, dan bau WC itu. Kami -kata mereka- kumpulan orang-orang terbuang, tapi justru kami merasa bahwa kami adalah yang paling jagoan. Percaya diri kami besar, sebesar keinginan kami untuk selalu bebas. Kami bangga!

Segalanya berakhir disapu ombak Kuta Bali, dan suramnya suasana Gedung Kartini Malang. Dalam sekejap saya kehilangan tangis, tawa, gurau, dan marah mereka. Dalam sekejap saya mati gaya, dan mulai merasa bodoh.

Lanjutkan! (bukan cuma presiden yang bisa 'lanjutkan')

Dini hari ini saya dicolek sama kawan lama.

Bujang Rasta: mana karya mu??
dewi ratna: karya apa?
dewi ratna: hahah
Bujang Rasta: yo karya tulis
Bujang Rasta: coba liat atau di add profil ini
dewi ratna: wes gak se-oke dulu aku...
Lalu apa yang dia berikan pada saya? Sebuah link yang membuat saya serasa ingin terus bangun dari tidur panjang.
Hilangkan ngatuk seketika
Menurunkan lemak kepenatan
Mengurangi ejakulasi dini menulis dan membaca
Menumbuhkan rasa percaya diri manusia dalam berkarya
Benar-benar 'secangkir kopi harapan' itu membuat saya sadar, bahwa saya bisa, saya masih bisa melakukannya, seperti dulu, bahkan lebih.

Merangkai huruf jadi kata, kata jadi kalimat, kalimat jadi paragraf, dan siap dibaca-baca oleh siapa saja. Melatih mata dan otak untuk membaca, melatih otak dan jemari untuk menulis.

Intinya, luangkan waktu, hilangkan rasa nggak percaya diri, lanjutkan!






Sunday, July 05, 2009

I HATE THE WAY YOU LIE TO ME

Bohongmu menyakitiku
Bohongmu membuatku merasa tidak berarti
Bohongmu membuatku kecewa
Bohongmu mendorong keinginan untuk membencimu

Tapi kenapa aku tidak pernah bisa membencimu?
Aku begitu mencintaimu
Aku tidak ingin kehilanganmu
Tapi haruskah aku hanya memendam sakit ini?

Bohongmu membuatku bosan hidup